[Kisah Menyentuh Hati] Sepatu Baru

Selasa, 03 Januari 2012

Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja. Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang sepatu kulit.

http://arcdiecareerexplorationthree.wikispaces.com/file/view/mechanic.jpg/72204543/mechanic.jpg

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada ayahminta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang dibengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir. “Willie” ayah kelihatannya terkejut.“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”“Setiap orang memakai sepatu sport yah!” “Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebuttidak menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport “Gaji ayah kecil dan sering tidakcukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. “Ayah, saya tampak seperti bloonmemakai sepatu jenis ini “kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.Ayah memandang dalam dalam ke mataku. Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kaupakai sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-kawanmu. Bila seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling bututdibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu danmembelikanmu sepasang sepatu sports”

Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan bahwa hariitu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang ketinggalan jaman ini.Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya ceritakan apayang saya lihat secara teliti.

Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusatperhatianku. Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapabanyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport, bahkansepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang sudah mendekatikepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa berdetakdetik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampiryakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang sedang “in” Setiap sayamenghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai sepatu sportidaman saya. Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-dentingmetal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956. Udara berbau oli, namun padahemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang langganan sedang menunggu ayahyang sedang bergulat di kolong chevy tua itu. “Pak Alva” tanya saya kepada langgananyang sedang menunggu, “masih lamakah?” “Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Iasedang membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan adanya bagian lain yangtidak beres, ia akan menyelesaikannya juga.”

Saya bersandar pada mobil abu abu itu. Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kakiayah yang menjulur keluar dari kolong mobil. Sambil menjentik jentik lampu belakangchevy, secara tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah. Celana kerjanya berwarna biru

tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh pula. Sepatunya, berwarna putih tua…. ah….bukan hitam muda……, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatuseorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulittipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit kedua belah kulitkencang kencang, mencegah jempol kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriapriap, dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalutkaus katun. “Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil. “Yes sir” kataku. „Kaulakukan apa yang kuperintahkan hari ini?” “Yes sir” “Nah, apa jawabmu ?” lamemandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya ucapkan. “Saya tetap ingin sepatusport “Saya berkata tegas, dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang kepadasepatu ayah. “Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu….. “Mengapa tidakpergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. danmemancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3% pajak penjualannya.Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok dari bengkeldi mana ayah bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku masihdipajang disana. Ternyata masih! $9.95. Namun uang saya tidak akan cukup bila sayaharus membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klakklik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab tidak mungkinkembali kepada ayah dan minta kekurangannya.

Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang melintasi keduamataku. Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yangtelah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit kertas.Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musimdingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,menuju kepada mobil mobil yang mogok. Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terpikirolehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidakdimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dankementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bilaayahku bersikap seperti saya bersikap. Saya masuk ke dalam toko sepatu itu. Sebuah rakbesar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh keren. Disampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral besar. 50%discount”. Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapagenerasi lebih muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut. Dan sekarang sepatubaru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dankemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.

Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan kearah meja kasir, ditambah pajak, jadilahbilangan $ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di mobilnya.Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa. “Sayapikir harganya $ 9.95″ kata ayah. “Obral” kataku pendek. Saya mengambil sapu, danmulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwabengkel harus ditutup dan kami harus pulang.

Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika iamembuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Iamemandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku. “Saya pikir kau membelisepatu sport”, katanya pelan.

“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya. Bagaimana saya harusmenjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan bila saya tumbuhmenjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang Tuhan berikankepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk waktusesaat. Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kamipulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik danbertanggung jawabsumber


0 komentar: